Minggu, 02 September 2012

Masuk dan Perkembangan Islam di provinsi Jambi


MASUK DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI PROVINSI JAMBI
(Study : Peranan Alawiyin Di Jambi Pada Abad Ke XVII)1

1.             Masuk dan berkembangnya Islam di Jambi
Secara geografis Jambi memang memiliki nilai strategis di jantung alur pelayaran laut lokal, Nasional maupun Internasional karena kedekatan dengan selat Malaka yang menjembatani hubungan pelayaran dari belahan barat dan timur maupun utara dunia. Tak dapat di sangkal wilayah Jambi melalui pelabuhannya mendapat persentuhan budaya luar yang bersifat simboistis maupun alkulturasi.
Temuan Prasasti persumpahan kedatuan Sriwijaya di desa Karangberahi kecamatan Pemenang kabupaten merangin yang diindikasikan sama tarihnya dengan tiga batu persumpahan Sriwijaya yaitu Prasasti kota kapur di Bangka, Prasasti Palas Pasemah di Lampung Selatan maupun Prasasti kedukan bukit di Palembang Sumatera selatan bertahun saka 608 atau 686 Masehi. Pada Prasasti itu tertera pahatan huruf Palawa dalam bahasa Melayu kuno. Tanpa adanya perkaitan hubungan asal huruf Palawa atau adanya kesepahaman penggunaan huruf yang berasal dari India itu tak kan mungkin masyarakatnya dapat membaca. Jelasnya apakah Sriwijaya atau Melayu kala itu sudah ada hubungan dengan belahan anak benua India tersebut.
Hubungan kebelahan dunia lain, dibuktikan oleh adanya sumber Arab yang menceritakan ada dua pucuk surat yang dikirim oleh Maharaja Sriwijaya (?) kepada dua khalifah ditimur tengah seperti di kupas SQ Fatimi dalam “Two Letters From Maharaja to the Khalifah, Islamic Studies (Karachi-1963)”4
Surat pertama terkutip bagian pendahuluannya saja yang secara beranting di dengar oleh Al-Jahizh dari Al-Haytsam bin Ali (732-822) dari Abu Ya`qub Al-Tsaqafi yang didengarnya dari Abd Al- Malik bin Umayr (653-753) yang melihat surat itu pada diwan (Sekretaris) Mu`awiyah setelah wafatnya.
Al-Jahizh meriwayatkan cuplikan pembukaan surat itu sebagai berikut : (Dari Raja Al-Hind- atau tepatnya kepulauan India) yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang Istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu Puteri Raja-raja dan yang memiliki dua sungai besar (Batanghari dan Musi) yang mengairi pohon Gaharu (Aloes) kepada Mu`awiyah”
Dua sungai besar (Batanghari dan Musi) membawa kita pada identifikasi kerajaan Sriwijaya atau Kerajaan Melayu (Mo-Lo-Yeu)lah yang mengadakan hubungan Diplomatik dengan Khalifah Mu`awiyah. Lebih khusus lagi bila di kaitkan dari catatan pendeta Cina I-Tsing yang singgah di Mo-Lo-Yeu tahun 672 M dan lima belas tahun kemudian (687 M) ia datang lagi ke Sriwijaya dicatat I-Tsing bahwa Mo-Lo-Yeu menjadi bagian Sriwijaya5. Artinya Raja Al-Hind dimaksud adalah raja kerajaan Sriwijaya yang wilayahnya sudah termasuk kerajaan Melayu, disekitar masa tahun 687 M yang Rajanya bernama Jayanasa.
Surat kedua jauh lebih lengkap seperti yang di nukil Ibn Abd Al Rabbih (860-940) dalam bukunya Al-Igd Al-Farid. Surat kedua ini dialamatkan kepada Khalifah Umar bin Abd Al Aziz (717-720), yang tertulis :
Nua`ym bin Hammud menulis “Raja Al-Hind (kepulauan) mengirim sepucuk surat kepada umar bin Abd Aziz yang berbunyi sebagai berikut : “Dari Raja di Raja (Malik Al malik-Maharaja) yang adalah keturunan seribu raja ; yang isterinya juga adalah anak cucu seribu Raja yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon Gaharu, bumbu-bumbu wewangian, Pala dan kapur barus yang semerbak wewanginya sampai menjangkau jarak 12 mil ; kepada Raja Arab(Umar bin Abd Al-Aziz) yang tidak menyekutukan Tuhan-Tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sebagai sekedar tanda persahabatan ; dan saya ingin anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya (atau di dalam versi lain yang akan mengajarkan Islam dan menjelaskan kepada saya)6.
Surat kedua yang diprediksikan Azyumardi di buat oleh Maharaja Sriwijaya. Sri Indrawarman yang dalam sumber Cina di sebut Shih-li-f `o-pa-mo. Di akui Azyumardi nama Cina ini menginsyaratkan bahwa Maharaja ini belum lagi menjadi pemeluk Islam. Penulis sependapat dengan komitmen ini malahan sampai sekitar tahun 1178 Raja Sriwijaya tetap bernama yang tidak bercirikan Islam7.
Hubungan diplomasi dan perdagangan seperti itu bisa terjadi bukan saja sesama Muslim (Islam). Sejumlah duta penguasa Sriwijaya maupun kerajaan Melayu Jambi di laporkan dalam kronik Cina dipimpin saudagar Muslim (Arab) bernama Sulaiman atau P`u Ali yang menurut Hirth dan Rockhild adalah seorang pedagang. Arab yang sebenarnya bernama Abd Ali. Duta-duta ini bisa saja pedagang Arab yang kapalnya berlabuh di pelabuhan kerajaan Sriwijaya/Melayu yang kemudian diminta penguasa memimpin delegasi duta-dutanya menghadap kaisar Cina8.
Satu hal yang menjadi ganjalan sehingga penulis meragukan surat itu berasal dari Maharaja Sriwijaya Sri Indrawarman adalah informasi yang termuat pada “Yang wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon-pohon Gaharu bumbu-bumbu wewangian, Pala dan Kapur Barus” Sampai sejauh ini belum ditemukan informasi bukti bahwa di Sriwijaya/Melayu (ada) menghasilkan Kapur Barus. Kapur Barus terkenal sampai ke mesir berasal dari Barus sehingga mendapat nama Kapur Barus. Sumber-sumber Cina mulai abad ke 6 M banyak menyebut Barus sebagai tempat kamper. Catatan tertulis tertua mengenai Kamper ini berasal dari awal abad ke 4 M yaitu dalam kumpulan dokumen “surat-surat lama” yang ditemukan di Donhuang yang ditulis oleh pedagang Sogdian dengan istilah “Kprwh” Kronik Dinasti Liang (502-557) menyebut kanper dengan Po-Lu-Xiang, Kanper dari Po-Iu. Po-Lu sendiri adalah sebutan untuk Barus9.
Dari gambaran geografis Barus memiliki dua buah sungai yaitu Aek Busuk disebelah barat laut dan Aek Maco/Aek Rajo di sebelah Tenggara. Kawasan ini pernah dilakukan penggalian arkeologi di situs Lobu Tua pada tahun 1978 dan 1985.
Dari temuan-temuan Prasasti di situs Lobu Tua di sintetiskan membawa dugaan para efigrafi bahwa situs Lobu tua di huni mulai pertengahan abad ke 9 hingga akhir abad ke 11 M. Dalam teks Xintang Shu yang disusun pada pertengahan abad ke 11 M menurut Wolters10 menggambarkan satu zaman sebelum 742 M Sriwijaya dibagi menjadi dua kerajaan yang mempunyai pemerintahan sendiri dan yang paling barat di sebut Lang-Po-Lu-Si (Barus). Kerajaan ini menghasilkan banyak emas, air raksa dan Kamper. Wolter menyebutkan catatan itu menggambarkan Barus sebagai suatu kawsan atau mungkin sebagai satu jaringan Sriwijaya yang berpusat di ujung utara pulau Sumatera.

Hubungan Barus dengan belahan Timur Tengah di perkuat oleh temuan sebuah cap Jimat oleh Tim Arkeologi Indonesia Perancis tahun 1997 di situs lobu Tua11. Cap Jimat ini terbuat dari kaca tembus pandang berwarna hijau tua berbentuk lonjong dengan pinggir bawah berlekuk. Inskripsi dua baris dalam bahasa Arab relif timbul kata “Allah dan Muhammad” cap Jimat ini diyakini barang Impor berasal dari Abab ke 10-11 dan di duga dari Iran atau Khurazan karena benda kaca sudah lama di kenal di daerah tersebut. Historiografi tradisional Aceh menceritakan bahwa leluhur para Sultan, Kesultanan Aceh adalah seorang keturunan Arab yang bernama Syaikh Jamal Al`Alam yang di utus oleh Sultan Usmaniyah untuk mengislamkan Rakyat Aceh dan cerita lain menyebut Syaikh Abdullah Arif keturunan Arab yang telah mengislamkan wilayah Aceh. Historiografi ini patut diduga berkaitan dengan Surat Raja Al-hind abad ke-7
Seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 menyimpulkan12 :
1.    Sebagaimana kita ketahui bahwa Islam pertama sekali masuk ke Indonesia adalah pada abad pertama hijrah atau abad ketujuh dan kedelapan Masehi langsung dari Arab.
2.    Wilayah pertama masuk Islam adalah Pesisir Sumatera (Samudra Pasai atau Peureulak), setelah terbentuknya masyarakat Islam maka Raja Islam pertama berada di Aceh.
3.    Untuk proses pengislaman selanjutnya orang-orang Indonesia ikut secara aktif dalam pelaksanaannya.
4.    Semua mobaligh Islam dahulu selain sebagai para penyebar Islam di Nusantara juga menjadi saudara sesama Muslim.
5.    Penyiran agama Islam pertama di Indonesia dilakukan secara damai.
6.    Kedatangan Islam ke Indonesia membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.

Dr. Hamka juga membuat Rangkuman bahwa :
1.    Agama Islam telah datang ketanah air sejak abad pertama Hijrah (abad ke 7 M) yang di bawa oleh saudagar-saudagar Islam dari Arab sebagai pelopor dan di ikuti oleh orang-orang Persia serta Gujarat.
2.    Karena penyebaran Islam itu tanpa kekerasan dan tidak ada penaklukan negeri, maka penyebarannya berjalan secara berangsur-angsur.
3.    Mazhab Syafi`i telah menjadi pegangan bagi penyebar dan penerima Islam sehingga terbukti pada Raja Islam Samudra Pasai yang alim dan Ahli Figh Mazhab Syafi`i.
4.    Kedatangan para ulama Islam dari luar Negeri ke Aceh memperkuat pemahaman Mazhab Syafi`i yang telah ditanam Raja-Raja Pasai.
5.    Dengan tidak menghilangkan kepribadian muslim Indonesia saya mengakui ramai ulama luar yang datang ke Negeri ini selain ada ulama-ulama kita yang belajar ke Makkah, Syam, Yaman, Aden, dan tempat-tempat lain yang mengesankan salafus solihin Indonesia sehingga Aceh menjadi Serambi Makkah menurut catatan Syekh Nuruddin Ar-Raniry dalam kitabnya Bustanus Salatin bahwa sebelum pemerintahan Ratu Safiiauddin, Aceh telah bergelar Serambi Makkah.

Muhammad Said juga menyimpulkan hasil seminar itu :
1.    Sumber-sumber sejarah Arab menegaskan bahwa di berbagai Bandar di Sumatera sejak abad ke 9 (catatan Mas`udi) sudah banyak pendatang Arab yang beragama Islam mendatangani tempat-tempat di maksud.
2.    Berdasarkan sumber-sumber orang luar (Arab dan Tionghoa) maka besar kemungkinan bahwa islam telah masuk ke Indonesia pada Abad pertama Hijriah.
            Dari catatan seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia di Medan itu13jelaslah bahwa masuknya Islam ke Indonesia pertama sekali di kepulauan Melayu Sumatera yang dalam hal ini dari bumi Aceh. Selanjutnya Islam berkembang hampir merata ke pelosok tanah Melayu. Beberapa kerajaan Islam muncul seperti Samudera Pasai, Malaka, Aceh, Johor, Riau, Pattani.
            Tome Peres ahli obat-obatan dari Lisbon yang menghabiskan waktunya di Malaka antara 1512 hingga 1515 yang mengunjungi Sumatera dan pulau Jawa merekam dalam bukunya “Suma Oriental” bahwa dimasa itu sebagian besar Raja-raja Sumatera beragama Islam mulai dari Aceh menyusur pesisir Timur hingga Palembang dan sekitar ujung Selatan Sumatera hingga Pesisr Barat sebagian besar penguasanya masih non Muslim, Menurut catatan Peres di Pasai ada komunitas pedagang Arab Internasional yang berkembang pesat. Demikian pula Raja Minangkabau disebut beragama Islam walau belum semua penduduknya Muslim. Tome Pires mengatakan bahwa setiap hari agama Islam selalu mendapatkan pemeluk-pemeluk baru di Sumatera.
               Ketika Tome Peres melakukan kunjungannya ke Sumatera di awal abad ke XVI itu, raja Jambi di pegang oleh Orang Kayo Hitam yang menurut Suto Dilogo Priyayi Rajosari, Orang Kayo Hitamlah yang mengislamkan ini Jambi. Namun gelaran Raja belum menunjukan nuansa Muslim. Baru anaknya Pengeran Hilang Diaek memangku kerajaan bergelar Panembahan Rantau Kapas (1515-1540). Penguasa Jambi bergelar Sultan baru terjadi di tahun 1615 yaitu masa Sultan Abdul Kahar.
            Tampaknya kendati Islam di katakan masuk ke Indonesia di abad pertama Hijriah atau abad ke 7 M, namun tampaknya belum ada temuan yang mendukung di kala itu Jambi sudah menganut Islam. Kita bisa menyebut bahwa para saudagar Arab atau Timur Tengah sudah menyinggahi pelabuhan Melayu bahkan pada abad IX-X duta utusan kerajaan Melayu di pimpin oleh Nakhoda yang bernama Muslim dan dapat di katakan Nakhoda itu bukan orang Jambi.
            Naskah Tanjung Tanah atau Kitab Undang-undang Tajung Tanah yang di temukan Petrus Voorhove tahun 1941 dan kemudian di perdalam kajiannya oleh Uli Kozok tahun 2002, merupakan naskah Melayu tertua berasal dari abad ke 14. Naskah ini di tulis dalam bahasa Melayu berhuruf Pasca-Palawa dan surat incung, yang tersimpan sebagai benda pusaka oleh masyarakat desa Tanjung Tanah Kerinci. Naskah ini berasal dari Dharmasraya masa Adityawarman, di tulis oleh Depati Kuja Ali atas perintah sang Maharaja. Naskah ini merupakan kitab undang-undang yang menetapkan hukum di Kerinci.
            Hal yang menarik dalam konteks bahasan kita adalah bahwa naskah Tanjung Tanah abad ke -14 masa Adityawarman (1293-1376) di Dramasraya belum atau tidak terdapat kata serapan bahasa Arab sehingga dapat di simpulkan naskah ini berasal dari masa Pra Islam di Jambi, apalagi penanggalannya menggunakan tahun saka dan bukan tahun hijriah.14
            Keberadaan Adityawarman dalam khasanah kerajaan Melayu merupakan lanjutan dari Raja-Raja melayu yang semula berpusat di Muara Jambi yang kemudian pasca Pamalayu (1275) bergeser ke pedalaman DAS Batanghari sebagai tindakan defensive dari kemungkinan serangan lanjutan Singosari atau juga pasukan Kubilaikhan dan tak menutup kemungkinan penghindaran serangan-serangan pasukan Sukothai dari suku-suku laut di perairan Selat Malaka. Bisa juga pemindahan ibu kota Melayu ke Suruaso Darmasraya di maksudkan memudahkan pengontrolan tambang emas di hulu DAS Batanghari.
            Dengan pertimbangan belum ada serapan bahasa/pengaruh Arab pada naskah Tanjung Tanah yang diperkirakan di tulis sebelum tahun 1397 itu, maka Jambi dimasa itu belum Islam kendati saudagar beragama Islam sejak abad awal Hijrah sudah ke Nusantara. Hal ini di dasarkan pada adanya teori Islamisasi awal di Indonesia yaitu Islam bersumber dari anak benua India (teori India), teori Arab, teori Persia dan teori Cina.15
               Teori India (Pijnappl, Snouck Hurgronje, Noquette dan Fatimi) mendasarkan alur perjalanan orang Arab Mazhab Syarfi`I berimigrasi dan menetap di Gujarat dan Malabar dan kemudian ke Nusantara. Pada Ahli memberi masa sekitar abad ke XIII – ke XV dengan penanda adanya batu nisan di bagian tertentu Nusantara berasal dari Gujarat kendati barbagai argument masih meragukannya.
               Teori Arab yang di ungkap Sir Thomas Arnold, Crawfurd, Nieman dan De Hollander menyatakan peyebaran Islam di bawa orang Arab Coromandel dan Malabar dengan penanda kesamaan mazhab Syafi`i. Selain itu lewat India pedagang Arab yang mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak awal abad ke 7 dan 8 M masuk ke Nusantara. Penguat teori ini bersumber dari Kronik Cina yang menyebut bahwa menjelang perempat ke tiga abad ke 7 M ada seorang Arab yang menjadi pemimpin pemukiman Arab Muslim di Pesisir Barat Sumatera.
               Historiografi tradisional Aceh banyak menyebut Islam langsung berasal dari Arab yang di bawa para pedagang yang juga juru da`wah yang profesional Islam di anut pertama kali oleh atau berasal dari kalangan penguasa Memang sejak abad pertama Hijriah sudah ada kontak langsung orang Islam tetapi di perkirakan pengaruh penyebarannya di Nusantara (yang berawal di Sumatera Bagian Utara) sekitar abad ke 12 dan 16 M
               Teori Persia yang di kemukakan PA. Hoesin Djajadiningrat menyatakan Islam masuk di abad ke-13 M dari Persia atas dasar kesamaan budaya seperti acara 10 Muharram untuk memperingati gugurnya Husain di Karbela. Ada upacara. Tabuik di Pariaman atau Tabot di Bengkulu. Ada hidangan bubur Suro di Jawa. Demikian juga kesamaan sistem mengeja huruf Arab. Persamaan batu nisan di Pasai dan di Gresik yang di pesan dari Gujarat yang merupakan daerah yang mendapat pengaruh Persia Hubungan dengan Persia ini juga di tandai oleh jalur perdagangan dari teluk Persia ke pantai Barat India dan ke Nusantara. Teori Persia ini memungkinkan adanya pendapat bahwa Islam datang ke Nusantara langsung dari Arabia Selatan, khususnya Yaman dan Hadramaut dan bisa juga dari bangsa Muslim kawasan pengaruh budaya Persia.
               Teori Cina juga kemudian berkembang pada abad ke-9 M Banyak Muslim Cina dari Kanton, Zhangzhou, QuanZhou yang datang ke Jawa. Unsur-unsur arsitektur Mesjid Jawa kuno, makam-makam dan keramik Cina di Laren Jawa Timur mengindikasikan adanya pengaruh Islam Cina di abad ke-11. bahkan ada yang menyebut beberapa Walisongo adalah Muslim Cina misalnya Raden Patah yang sebenarnya bernama Cina Jin Bun, Sunan Ampel sama dengan Bang Swi Hoo, Raden Said/Sunan Kalijaga di Indetifikasikan sebagai Gan Si Cang16.
               Andai diringkaskan, maka seperti di ungkap Hasan Mu`arif Ambary17 ada tahapan proses Islamisasi di Indonesia yaitu fase kehadiran para pedagang Muslim yang juga da`i di abad ke 1-4 Hijriah atau abad ke 7-11 M yang ditandai oleh kegiatan hubungan perdagangan dan bisa terjadi juga adanya hubungan perkawinan dengan penduduk setempat. Proses ini terjadi terutama di daerah pesisr Selat Malaka, bagian Pesisir Barat pulau Sumatera, sesuai fungsi selat Malaka sebagai tempat lalu lintas pelayaran dan perdagangan Ramainya kontak itu bisa juga terjadi dengan perkaitan kompetisi pelayaran dan perdagangan dari tiga kerajaan besar yaitu Bani Umayah di Asia bagian Barat, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Dinasti T`ang di Asia Bagian Timur sehingga terbentang hubungan jalur pelayaran dan perdagangan antara negeri-negeri Arab, Persia, India (Gujarat), Nusantara dan Cina. Untuk sampai ke fase kedua terbentuknya kerajaan Islam(abad ke 13-16 M) terjadi proses yang lama baik secara Simbiois maupun Akulturasi, Faktor Geografis yang terletak paling jauh dari tempat kelahiran agama Islam maka dapat di mengerti kalau Nusantara termasuk kawasan yang paling akhir mendapat pengaruh kebudayaan Islam. Penyeberanyapun berlangsung damai di kalangan penduduk yang sebelumnya telah memeluk agama Hindu atau Budha. Banyak pedagang dari Gujarat yang karena tingkah laku ketauladanan dan ketaatan mereka beragama diangkat menjadi pemimpin seperti di Aceh dan Gersik Pada fase ketiga, agama Islam yang berpusat di Pasai tersebar luas menyusuri Pesisir Sumatera, Semenanjung Malaka, Jawa, Kalimantan, Lombok, Sulawesi dan Maluku.
               Para penyebar Islam banyak menduduki berbagai Jabatan di kerajaan dan di antaranya ada yang kawin dengan penduduk setempat. Banyak mesjid yang di bangun para penyebar agama Islam. Beberapa elemen kebudayaan lokal bernuansa Islami semakin menyebar. ada Raja dan keluarganya yang di Islamkan, banyak rakyat yang tertarik karena sosialisasi yang menyentuh hati tanpa pembongkaran akar budaya setempat. Fase ini berlangsung pada akhir abad ke 16,17 dan abad ke-18 M, dan awal abad ke 19 M. Ketiga fase ini menurut penulis terjadi dan di alami oleh Jambi.
               Masa kerajaan Melayu dengan pelabuhan Zabaq atau Muaro Jambi di abad ke-7 M jelas memberi dan merupakan media persentuhan dan akulturasi agama dan kebudayaan Islam melalui para pedagang dan ulama Muslim baik dari Arab, Persia, India (Gujarat) maupun Cina. Sampai pertengahan abad ke-15 sepertinya Jambi masih sepi dari tinggalan Artefak dan bukti kesejarahan Islam. Munculnya Akhmad Salim atau Akhmad Barus II yang kemudian di kenal dengan gelar sebagai Datuk Paduko Berhalo, barulah di toreh sebagai awal betapaknya kerajaan Melayu Islam. Para keturunanyalah kemudian yang menjadi penguasa kerajaan Melayu Jambi. Sultan Thaha Saipuddin yang merupakan keturunan ke 17 dari pasangan Datuk Paduko Berhalo dengan penguasa Jambi Putri Selaro Pinang Masak. Sultan Thaha merupakan Sultan terakhir yang di daulat Rakyat Jambi sebagai Sultan sampai akhir hayatnya gugur di medan laga melawan penjajah Belanda di Betung Bedara Tebo pada subuh hari tanggal 27 April 1904. Makamnya bersemayam di Muaro Tebo dan di angkat Presiden RI sebagai Pahlawan Nasional 1977 melalui penetapan Kepres No.079/TK/tahun 1977 per tanggal 24 Oktober 1977.

2.       Peranan Alawiyin di Jambi
Kehadiran Akhmad Salim atau Akhmad Barus II di bumi Jambi ini menjadi Patronase penguasa local Puteri Selaro Pinang Masak Raja Jambi. Dimasa Orang Kayo Hitam(Raja ketiga setelah Puteri Selaro Penang Masak) merupakan penguasa local yang menyebarkan agama Islam yang sekaligus berperan dalam memberi corak kepemerintahan dengan perlambangan keris Siginjei sebagai penanda pemegang kekuasaan. Sampai Sultan Thaha Saifuddin tidak diakui oleh Belanda pada tahun 1858 M dan diangkat tiga orang Sultan bayang untuk menggantikannya, Rakyat Jambi tetap mengakui kedaulatan Sultan Thaha karena keris Siginjei masih tetap di tangan Sultan Taha kendati Sulthan sendiri telah menindahkan pusat perlawanannya di hulu DAS Batang hari yaitu di Tanah Garo dan Istana tanah pilih di Jambi telah di bumi hanguskan karena sultan tidak ingin Istana di duduki Belanda di tahun 1858 itu.
Tonggak sejarah peran Alawiyin yang dimiliki Jambi adalah naskah yang di tulis Oemar Ngebi Sutho Dilago Priyayi Rajo Sari yaitu kitab undang-undang piagam pencacahan dan kisah Negeri Jambi yang berhijrat 1937 M
Pada pasal sila-sila keturunan Raja Jambi tertulis :
“Dan tatkala mati Tun Talanai, ini Jambi tidak beraja lagi, maka turun anak Raja Pagaruyung ke jambi perempuan nama Tuan Putri Selaro Pinang Masak, bapaknya Raja Beramah itu beranak tiga orang perempuan semuanya, dan anaknya yang tertua bernama Tuan Putri Selaro Pinang Masak yang turun ke Jambi menjadi Raja di tanah Jambi yang bernegeri Jambi di Tanjung Jabung, nikah dengan Datuk Paduko BErhalo anak Raja dan Setambul.”18
Pada naskah yang berbahasa Melayu beraksara jawi(Arab Melayu gundul) di ceritakan kisah kedatangan Akhmad Salim atau Akhmad Barus II yang semula akan ke pulau Jawa. Dari Turki, dua beradik kapalnya di terjang badai di perairan selat malaka dan terdampar di pulau yang berada di ambang ujung Jabung. Pulau ini oleh para petani di kenal sebagai Pulau angker atau Pulau hantu, sehingga banyak sesaji dan patung-patung untuk keberkahan keselamatan bagi para pelaut yang melewatinya. Kapal sang adik tercampak ke pulau Jawa di selamatkan Ratu Majapahit sedangkan Akhmad Salim/Akhmad Barus II setelah terdampar di pulau dan menghancurkan berhala-berhala di sana, di ajak berdiam di Istana. Singkatnya maka nikahlah dia dengan penguasa Jambi dank arena sikapnya menghancurkan berhala, mendapatkan gelar Paduko Berhalo19.
Pada pasal sila-sila dari sebelah Pagarruyung turunan sebelah perempuan di perjelas bahwa Datuk Paduko Berhalo anak Raja dari negeri Turki. Pada bagian pasal yang sama di pertegas lagi.
“…..Asalnya Datuk Paduko Berhalo Raja Turki turunan dari Sultan Saidina Zainal Abidin bin Saidina Husen binti Fatimah Zahara binti Saidina Rasul menjadi Raja dengan istrinya namanya Tuan Putri Selaro Pinang Masak, Raja Pagaruyung di tanah Jambi bernegeri di Tanjung Jabung beranak empat orang dan yang tua bernama Orang Kayo Pingai yang muda bernama Orang kayo Kedataran yang muda bernama Orang Kayo Hitam, yang muda bernama Orang kayo Gemuk perempuan”20
Kutipan diatas merupakan kejelasan bahwa Datuk Pasuko Berhalo itu orang Turki, anak Raja Alawiyin dan tentu keturunannya sampai ke Sultan Thaha Saifudin adalah Aliwiyin yang merupakan turunan garis lurus. Dalam sistem pemerintahan kesultanan Jambi, anak Raja yang sedang berkuasa selalu di persiapkan sebagai Putra Mahkota dengan menyandang gelar Pangeran Ratu Posisi Pangeran Ratu berada di bawah Sultan yang sifatnya Operasional Kerajaan. Biasanya Pangeran Ratu tidak langsung berada di bawah ayahnya yang sedang memerintah. Ada masa permagangan Pangeran Ratu untuk Sultan pengganti ayahnya yang wafat. Sultan tersebut adalah adik, kakak atau paman dari Sultan yang wafat yang di tetapkan dalam kerapatan kekerabatan Sultan. Intrik-intrik dan gerakan bawah tanah dari pihak-pihak yang tidak setuju dengan pengangkatan Sultan baru diluar garis keturunan langsung atau penetapan Pangeran Ratu sering menjadi lahan/adu domba VOC atau celah untuk pembuatan perjanjian monopoli mata dagang yang kemudian beralih pada campur tangan di pemerintahan kesultanan. Pengangkatan Pangeran Depati Cakra Negara menjadi Sultan kiyai Gede sebagai bukti campur tangan VOC sebab pangeran Deputi Cakranegara bukanlah Pangeran Ratu. Pengeran Ratu yang sebenarnya adalah pangeran Raden Julat yang menyingkir ke Mangun Jayo Tebo dan memproklamirkan sebagai Sri Maharajo Batu. Beberapa tahun kemudian, Sri Maharaja Batu kembali ke Jambi memangku Kesultanan Jambi dengan gelar Sultan Suto Ingalogo.
Peralihan gelar Raja dari panembahan ke Sultan terjadi di abad ke-17 atau tepatnya ketika Kerajaan Jambi di pegang oleh Sultan Abdul Kahar (1615-1643). Tentu peralihan ini sangat erat kaitannya dengan peran para ulama baik di Jambi yang tidak kental lagi, ikatan dengan Raja-Raja Jawa Singosani atau Majapahit Pada masa akhir kejayaan Majapahit para Pejabat Pemerintahnya, Bergelar panembahan yang kemudian beralih menjadi Sunan dan kemudian baru menjadi Sultan plus gelar.
Penulis mendapat kesulitan untuk secara khas dan khusus mendeskripsikan peran Alawiyin di abad ke-17, karena ketiadaan referensi. Prof.Dr.Azyumardi Azra MA dalam“Jaringan ulama-ulamanya”banyak membahas Palembang, Aceh dan Jawi(Jawa), Sumatera Barat bahkan Kalimantan tanpa ada menyinggung atau penyebutan Jambi. Mungkin sisi pendekatannya yang berbeda sehingga belum terungkap hubungan jaringan Alawiyin dengan sufisme atau tarekat yang menjadi benang merah pembahasan buku. “Jaringan ulama-ulama”tersebut. Dari informasi ada yang menyebut Al Habib Husin bin Ahmad Baragbah ini mempunyai saudara di Kedah Malaysia. Informasi ini di dapat ketika perbincangan di Kuala Lumpur tahun 2006 bersama Sdr Hasan Kasim SH yang menelisik silsilah leluhurnya dengan sanak famili di Malaysia. Ketika itu yang menyebut dirinya cicit Al Habib Hasan Syarifah Rodiah menceritakan ada saudara leluhurnya bernama Al Husen di Jambi Cerita punya cerita di perkirakan Al Husen di Jambi itu ialah Al Habib Husen bin Ahmad Baragbah yang juga di kenal sebagai Tuanku Keramat Tambak.
Penentuan waktu kehadiran keduanya di Semenanjung belum dapat di telusuri selain dengan perkiraan 6-7 keturunan dari sekarang atau antara 200-300an tahun lalu. Penerawangan kita tentu berkisar di abad ke-17an. Elsbeth Loeher-Scholten mencatat pada tahun 1616 Pelabuhan Jambi sudah dipandang sebagai pelabuhan terkaya kedua di Sumatera setelah Aceh21.
Perdagangan lada merupakan komoditas yang sangat menguntungkan. Pada mulanya pihak kesultanan(yang juga bertindak sebagai pengumpul dan penjual)melakukan perdagangan dengan orang-orang Portugis, perusahaan dagang Inggris dan juga Hindia Timur Belanda. Para perusahaan dagang tersebut juga melibatkan orang-orang Cina, Melayu, Bugis dan Jawa. Dari monopoli perdagangan dan bea Impor Ekspor inilah para Sultan Jambi menjadi kaya dan membiayai perjalanan Pemerintahannya. Dengan posisi demikian Jambi ikut berperan aktif dalam hubungan Internasional, Pada tahun 1670 an keperkasaan Jambi sebanding dengan Palembang dan Johor. Kondisi inilah yang menarik para pedagang dan ulama datang ke Jambi, diantaranya Al-Habib Husen setelah beberapa saat tinggal di Malaka atau Johor yang sekaligus membekali dengan kemampuan berbahasa Melayu yang merupakan media pengikat dengan masyarakat Jambi. Ada juga informasi bahwa Al-Habib Husen sebelum ke Jambi beliau menetap dan kawin di Palembang. Beberapa tahun kemudian baru pindah dan menetap di Pecinan Seberang Kota Jambi.
Catatan sayyid Salim bin Abubakar Al Muhdhor tahun 2005 menerakan tahun 1138 H atau 1708 M sebagai tahun kehadiran Said Husen bin Abdurrahman bin Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Al Faqih Al Muqaddam bin Muhammad bin Ali Ba`alawi bin Muhammad bin Shohibu Marbat bin Ali Al Khali Qosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad An wajib bin Ali al_Uraidhi bin Ja`far As-shodig bin Muhammad Al_Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah binti Rasulillah SAW. Dari silsilah nama ini tampak jelas ada hubungan leluhur lansung dengan Akhmad Salim/Akhmad Barus 2 atau yang disebut dalam catatan Sayyid Salim sebagai Akhmad Ilyas. Berarti Said Husain juga adalah Alawiyin yang menyebarkan agama islam di Jambi.
Catatan Sayyid Salim juga menceritakan kehadiran Said Husin bin Ahmad Baragbah bersama anaknya bernama Said Qosim tinggal di kampung Arab Melayu. Selama 35 tahun ia menurunkan ilmu ajaran Islam dan setelah wafat di tahun 1173 H(1743 M) di lanjutkan oleh anak dan para muridnya. Makamnya di perkuburan khusus keturunan Ahlul Bait Rasulullah SAW di Tahlul Yaman yang dikenal juga sebagai makam Keramat Tambak Nama Tambak di lekatkan di sana karena makam ini di tinggikan dengan penimbunan tanah yang disebut masyarakat sebagai Tambak. Sayyid Qosim wafat di tahun 1186 H(1756 M) dan di makamkan di samping makam ayahnya. Secara Archeologi pihak BP3 Jambi juga mengidentifikasi adanya Nisan batu type Aceh abad ke 18 dan 19 yang di prediksikan berasal dari Semenanjung Malaka serta Nisan kayu dengan angka tahun 1231 H atau 1805 M di Mudung Laut.
Dari catatan tersebut dapat di katakan kehadiran Sayyid Husen ke Jambi setelah berdamainya kembali kesultanan Jambi dengan Johor yang selama bertahun-tahun (dari tahun 1667-1673) terlibat dalam aktifitas saling serang Jambi berhasil menguasai Johor dengan bantuan Palembang dan kemudian menyerahkan kembali kekuasaan atas Johor karena desakan VOC di tahun 1679 Akhirnya sang Sultan Jambi Sri Ingologo dengan licik ditangkap kompeni di bawa ke Batavia tahun 1688 dan kemudian di buang ke Banda tahun 1690. Aksi campur tangan VOC ini membuat perpecahan di kalangan bangsawan Keraton yang berebutan tahta dan biasanya perdamaian di akhir dengan penanda tangan kontrak perjanjian yang jelas menguntungkan kepentingan kompeni. Kita tidak tahu dalam perang saudara yang mengakhiri kekuasaan sultan sesudah tahun 1800 ikut di warnai oleh peran Alawiyin, karena pada tahun 1811 penduduk Jambi di pimpin para saudagar Arab dan suku Rajo Empat Puluh melawan Sultan Mahidin yang di picu oleh sikap dan perilaku perlakuan isteri Sultan terhadap anak-anak perempuan para saudagar Arab. Pada tahun 1830 keluarga keturunan Arab baru berjumlah 20 orang dari 600 jiwa penduduk kota Jambi. Keterlibatana para ulama dapat di mengerti karena bukan hanya menngajarkan tata cara ibadah untuk akhirat saja, tetapi juga mengajarkan tata cara bermuamalah, beriteraksi social dalam urusan dunia. Konteksnya terwujud dalam perannya sebagai penasehat Sultan. Selaku Penasehat tentu terkait pula pada ikatan emosional pada salah satu pihak dalam suatu pertikaian keluarga keraton. Setelah tahun 1830 itu tidak ada lagi catatan kompeni terhadap kelompok Alawiyin terhadap kesultanan. Sampai masa Sultan Thaha mengadakan perlawanan dari pedalaman, maka pangeran Wirokusumo seorang pejabat dari Kerapatan Patih Dalam yang juga besan Sultan yang nama sebenarnya Al-Habib As Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri di beri tugas mengordinasikan pemasokan bahan dan peralatan perjuangan ke pedalaman. Pangeran Wirokesuma berkedudukan di Olak Kemang Seberang kota yang rumahnya(di kenal sebagai rumah batu) sebagai base camp bagi Sultan bila menyusup ke Jambi atau pembantu-pembantu lainnya yang di tugaskan ke Jambi.

1 komentar:

suara biru mengatakan...

sumbernya dari mana mbak?

Poskan Komentar